Kewajiban untuk Memberontak.. Negeri ini membutuhkannya..

Dengan kata lain, dengan keterbatasan, manusia melakukan pemberontakan untuk mendapatkan kebebasan (atau nilai yang diperjuangkan). Disini saya ingin menunjukkan bahwa manusia itu tidak bebas, jika manusia bebas berarti manusia tidak dapat melakukan pemberontakan. Hanya manusia tidak-bebaslah yang dapat melakukan pemberontakan.

Pemberontakan, ehm, mendengar kata ini kita terlampau sering mengasosiasikannya dengan sesuatu hal nan negatif; kerusakan, kekerasan, anti kemapanan dan entah apa lagi. Tetapi, jika kita mencoba meluangkan waktu barang sejanak, barangkali persepsi seperti diatas bisa jadi salah.

Kegiatan memberontak tentu terkait amat erat dengan tema kebebasan manusia. Lebih dalam, tafsiran kebebasan seringkali identik dengan kemerdekaan dan lepas dari “hegemoni” individu, dan insitusi yang mempunyai otoritas, entah itu negara, tokoh agama, peradilan, dan pemimpin yang berpengaruh. Melalui tulisan sederhana ini, saya mecoba ‘tuk berusaha mengungkapkan tentang betapa pentingnya pemberontakan bahkan tanpa ragu berhasrat ingin mengatakan wajibnya manusia untuk memberontak! Tentu pemberontakan disini haruslah dipahami secara luas, bebas dari prasangka.

Keteraturan atau kemapanan yang oleh kebanyakan dari kita menginginkannya bukanlah jawaban atas problem individu sekaligus kemasyarakatan yang ingin menjadi tatanan sosial yang “lebih baik”, “madani”, lebih modern, bermartabat, dan seterusnya. Utopis, jika dibenak kita masih tersimpan suatu harapan tentang individu dan tatanan masyarakat yang penuh kebaikan tanpa ada “tangan-tangan kotor”, kejahatan, penindasan, dosa, dan hal apapun yang dianggap sebagai koordinat Y jika di titik lain adalah X.

Realitasnya, keteraturan terkadang, untuk tidak mengatakan terlalu sering, menjebak manusia dalam kedangkalan akan makna-makna apalagi jika sampai terhanyut dan lupa pada keberadaan atau kehidupannya sendiri. Pada level individu, lewat rutinitas, keteraturan manusia bisa jadi merendahkan kemanusiaannya sendiri sehingga menjadikannya tak lebih dari sebuah robot berjalan tanpa ruh.

Kala saya melakukan analisis historis, mengungkapkan hampir tak ada yang umat manusia dapatkan secara signifikan jika hanya berjalan pada keteraturan atau kemapanan karena itu selalu berujung pada penyeragaman, homogenisasi dan homogenisasai teramat dekat dengan otoritarianisme. Terlalu banyak peristiwa dunia yang kita saksikan yang membawa pada kebenaran yang dengannya dilakukan lewat pemberontakan. Toh, jikalau diperbolehkan, sesungguhnya apa yang dilakukan para Nabi itu bisa disebut “pemberontakan” pada zamannya.

Ironisnya, atas nama keteraturan, kemajuan, kejayaan, dan harga diri, kebanyakan dari kita mecoba memonopoli itu dengan topeng-topeng kebenaran dan melalui institusi, kekuasaan, norma, etika, seperangkat media, dan hukum coba untuk dipaksakan.

Pada titik inilah, individu yang menjadi bagian dari komunitas sosial mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moril untuk membuat sebuah anomali, tiada lain adalah pemberontakan. Pemberontakan haruslah dimaknai sebagai ikhtiar untuk menggapai value yang memang perlu diperjuangkan, senada dengan Albert Camus bahwa pemberontakan tidak hanya terjadi dalam hal-hal yang bersifat fisik dan tidak pula setiap nilai memerlukan pemberontakan, tetapi tindakan pemberontakan secara diam-diam meminta suatu nilai (Lihat buku The Rebellion karya Albert Camus hal. 21). Pada level praktis, untuk dijadikan contoh dapat diambil dari fenomena keagamaan tanah air; Islam liberal atau lebih dikenal dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Banyak kalangan keagamaan mainstream menilai bahwa pemikiran meraka “sesat” tetapi pada batas-batas tertentu pemikiran mereka dapat dijustifikasi sebagai ikon kebangkitkan semangat intelektual keagamaan. Gerakan merekapun akhirnya dapat dipahami sebagai jawaban (baca: pemberontakan) atas lesunya diskursus keagamaan di Indonesia. Atau jargon yang sering kita dengar sebagai penyemangat saat kita mulai miskin ide; out of the box, pun dapat dikategorikan sebagai bentuk pemberontakan sebagai proses alami manusia yang kreatif.

Pun manusia pada dasarnya sudah dibekali “keadaan” untuk memberontak. Ya, keterbatasan. Keterbatasan itulah yang menjadi alat pemberontakan manusia. Dengan kata lain, dengan keterbatasan, manusia melakukan pemberontakan untuk mendapatkan kebebasan (atau nilai yang diperjuangkan). Disini saya ingin menunjukkan bahwa manusia itu tidak bebas, jika manusia bebas berarti manusia tidak dapat melakukan pemberontakan. Hanya manusia tidak-bebaslah yang dapat melakukan pemberontakan.

Akhirnya, pemberontakan yang manusia lakukan harus dipahami sebagai sintesis alamiah yang dengan itu diharapkan dapat membawa manusia kearah tercapainya makna kehidupan yang mendalam, bukan lagi keteraturan! Secara eksistensialis manusia ‘kan memang becoming (proses menjadi).

Mari “memberontak”, negeri ini butuh perubahan kawan!

1 Comment

  1. stay punk, stay rebel, stay MUSLIM!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s